Monday, June 9, 2008

Maaf...


Dalam fase perjalanan hidup seorang insan di dunia rasanya tiada yang tak pernah merasakan sesuatu yang bernama perselisihan. Entah bagaimana akhir kisah dari perselisihan tersebut pastinya akan sempat menorehkan sebuah luka di hati. Ada dua pilihan penatalaksanaan dari luka tersebut ; pertama tetap membiarkan luka tersebut ada di dalam hati, dan kedua menutup serta merawat luka tersebut dengan kata ajaib bertitel maaf.
Sejatinya luka yang apabila tetap dibiarkan, mungkin dapat menyembuh tetapi sungguh penyembuhannya tidak akan sesempurna bila dibandingkan dengan luka yang dirawat. Hasil akhirnya sungguh memiliki perbedaan yang signifikan. Luka di kulit yang dibiarkan terbuka biasanya akan meninggalkan noktah atau hingga yang paling parah adalah berupa jaringan parut. Namun, luka di kulit yang dirawat dengan baik dapat menyembuh hingga strukturnya kembali seperti semula. Memang, untuk merawat luka tentunya dibutuhkan tenaga juga waktu, tetapi apalah arti dari kesemuanya itu bila hasil akhir yang didapatkan akan lebih baik bila dibandingkan dengan hanya membiarkan luka yang ada?
Maaf. Terlihat sebagai sebuah kata yang sepele, tapi sungguh memiliki energi yang luar biasa dalam mengubah segalanya. Saya sangat meyakini bahwa sebilah dendam yang menelisik di dalam hati bisa menyebabkan aura seseorang menjadi kurang baik. Artinya, gelombang energi yang dipancarkan dari orang tersebut merupakan energi negatif. Jika sudah demikian, maka sebagaimana halnya kejadian-kejadian lain yang ada di dunia ini, akan terjadi satu hukum sebab akibat demi tercapainya suatu kesetimbangan. Karena setiap delik hal yang terjadi adalah berupa energi dengan frekuensi tertentu, maka segala yang kita pikirkan, emosikan, tuturkan, dan persepsikan ada dalam bentuk energi yang akan menyebar ke semesta. Mudahnya begini, setiap satu frekuensi energi negatif yang kita sebarkan pada semesta, maka kita akan mendapatkannya kembali dalam jumlah yang sama. Jadi, bisa dibayangkan bila dendam yang ada dalam jiwa bertumpuk-tumpuk, maka sebanyak itu pulalah energi negatif akibat dendam yang kita dapatkan.
Bukan hanya menyebabkan cahaya hati menjadi padam, dendam yang terbenam dalam jiwa dapat juga memiliki implikasi pada orang yang dikenai bara tersebut. Mengapa? Karena sejatinya, energi negatif dari orang yang memiliki dendam padanya akan tetap terpancar dan tanpa disadari dapat membawa efek yang buruk. Tak jarang ada orang yang bercerita mengenai perjalanan hidupnya yang kerap menghadapi kerikil-kerikil tajam meski telah banyak ibadah yang ia lakukan. Shaum Senin-Kamis, sholat tahajjud, berdoa, amal shodaqoh, dan lain-lain telah dilakukan, tetapi tetap saja keterpurukan nasib enggan berpaling dari dirinya. Disadari atau tidak, hukum alam pasti berlaku : karena jumlah energi positifnya belum sebanding dengan jumlah energi negatif yang dihasilkannya pada waktu yang sama, maka hasilnya akan tetap negatif. Pada intinya, banyak orang yang kerap mengalami ketertatihan untuk melangkah ke depan adalah karena mereka mempertahankan energi negatif dalam jiwa dalam bentuk marah dan dendam pada orang lainnya.
Meski dirasakan amat berat, ketulusan hati dalam memaafkan adalah kunci dari segalanya. Bentuk memaafkan bukan berarti menerima begitu saja ketidakadilan perlakuan yang telah dilakukan terhadap diri atau pula sebanding dengan kewajiban untuk menghubungi orang yang pernah menyakiti. Stigma yang umum adalah bahwa memaafkan merupakan sesuatu yang dilakukan untuk orang lain. Memaafkan, sejatinya adalah tindakan yang dilakukan demi kepentingan diri sendiri dan hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Memaafkan bukan hanya ditujukan untuk orang lain, tapi sungguh lebih diarahkan untuk diri sendiri. Memohon ampunan pada Allah dan bertaubat atas kealpaan yang pernah terjadi serta menganggapnya sebagai satu pelajaran penting kehidupan dari Allah, merupakan bentuk penting dari memaafkan diri sendiri. Hanya orang-orang kuatlah yang mampu memaafkan orang lain maupun diri sendiri. Lantas, siapa sajakah orang-orang yang harus mendapatkan kemaafan? Cobalah ingat kembali wajah seseorang dan tentukan perasaan diri terhadapnya. Apabila ada emosi negatif yang seketika membuncah dalam hati, maka orang inilah yang harus dimaafkan.
Saya percaya, ketika hati telah lapang untuk memaafkan, maka seketika itu pula keajaiban di sekeliling dapat terjadi. Saat kemaafan telah diberikan, maka pada saat itu pulalah energi negatif yang selama ini menjadi tabir antara diri kita dengan orang tersebut akan terbuka. Implikasinya, orang itu pun akan merasakan sesuatu yang sangat positif dalam dirinya. Bukan merupakan hal yang aneh apabila di suatu hari kemudian, setelah kita memberikan maaf pada orang tersebut, secara tiba-tiba sikapnya berubah meskipun kita tak pernah memberitahunya bahwa ia telah mendapatkan sertifikasi kemaafan dari kita.
Sebilah keikhlasan hati untuk memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti atau menzalimi diri, sejatinya dapat menguras energi negatif yang selama ini telah dihasilkan tanpa disadari. Pada saat itulah, energi positif dalam diri akan semakin terpancar dan masa depan yang cerah makin mudah untuk diraih. Kemaafan, dapat menerbangkan noktah-noktah hitam dalam jiwa ke bilangan Andromeda, dan pada saat jiwa dalam keadaan bersih itulah ribuan harap yang disanjungkan akan lebih mudah diijabah oleh Allah, Insya Allah. Wallahu’alam bishshawab.


drosalina@blogspot.com

Ketika....

1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu untuk anak-anak kita.
Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah untuk anak-anak kita.
2. KETIKA MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis, tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.
3. KETIKA AKAD NIKAH
Anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan Allah.
4. KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendo'akan Anda, karena Anda harus berpikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berfikir untuk BERCERAI karena menyia-nyiakan do'a mereka.
5. SEJAK MALAM PERTAMA
Bersyukur dan bersabarlah. Anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.
6. SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.
7. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan, tetapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.
8. KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK.
Cintailah isteri atau suami Anda 100%
9. KETIKA TELAH MEMIKI ANAK.
Jangan bagi cinta Anda kepada [suami] isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami anda 100% dan cintai anak-anak Anda masing-masing 100%.
10. KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM MEMBAIK.
Yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.
11. KETIKA EKONOMI MEMBAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.
12. KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja-manja kepada isteri, tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.
13. KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.
14. KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.
15. KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anak pun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.
16. KETIKA ADA PIL
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.
17. KETIKA ADA WIL
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.
18. KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.
19. KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS
Gunakanlah formula 7 K
1. Ketaqwaan
2. Kasih sayang
3. Kesetiaan
4. Komunikasi dialogis
5. Keterbukaan
6. Kejujuran
7. Kesabaran
*Dapat satu forwardan email dari milis BSMI JakPus, tapi authornya unknown. Semoga bisa menjadi bahan renungan bersama untuk yang akan dan sudah menikah =)*

Tuesday, March 11, 2008

Doa Sang Jenderal

Oleh : Andrie Wongso

Pada masa perang dunia kedua, tepatnya bulan Mei Tahun 1952, seorang jenderal kenamaan, Douglas Mac Arthur, menullis sebuah puisi untuk putra tercintanya yang saat itu baru berusia 14 tahun. Puisi tersebut mencerminkan harapan seorang ayah kepada anaknya. Ia memberi sang anak puisi indah yang berjudul "Doa untuk Putraku" Inilah isi puisi tersebut:
Doa untuk Putraku


Tuhanku...
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku...
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.
Dan, setelah semua menjadi miliknya...
Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku...
Berilah ia kerendahan hati...
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"

Pembaca yang budiman, Puisi yang ditulis oleh Jenderal Douglas MacArthur tersebut merupakan sebuah puisi yang luar biasa. Puisi itu adalah sebuah cermin seorang ayah yang mengharapkan anaknya kelak mampu menjadi manusia yang ber-Tuhan sekaligus mampu menjadi manusia yang tegar, tidak cengeng, tidak manja, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Seperti contoh sepenggal puisi di atas yg berbunyi: "Janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan." Puisi ini menunjukkan bahwa sang jenderal sadar tidak ada jalan yang rata untuk kehidupan sukses yang berkualitas.
Seperti kata mutiara yang tidak bosan saya ucapkan: "Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda."
Untuk itu, jangan kompromi atau lunak pada sikap kita yang destruktif, merusak, dan cenderung melemahkan. Maka, senantiasalah belajar bersikap tegas dan keras dalam membangun karakter yang konstruktif, membangun, demi menciptakan kehidupan sukses yang gemilang, hidup penuh kebahagiaan!!
Selamat berjuang!!!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India